• LOGIN
  • No products in the cart.

Setiap Penulis Memiliki Jiwa Khasnya Sendiri

“Engkau harus menemukan sebuah kunci; sebuah petunjuk untuk mendapatkan gaya menulismu sendiri. Sebab, yang engkau miliki hanya dua puluh enam huruf dalam abjad itu, beberapa tanda baca, dan beberapa kertas.”  —Toni Morrison

Berapa banyak kesalahan yang sudah kita jejakkan selama proses menulis? Terlalu banyak? Tidak apa, karena sering membuat kesalahan berarti kreatif. Bukan, bukannya membuat kesalahan itu berarti kreatif, akan tetapi, kalau kita tidak siap dengna beberapa kesalahan, kita tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang orisinal.

Lebih bagus kita menghasilkan sejuta kesalahan karena telah mencoba melakukan banyak hal, meramu sana-sini, menggabung ini-itu, daripada selalu benar, namun sebenarnya tak pernah melakukan apa pun. Kita berhenti dan menikmati empuknya sofa, tapi yang lain sudah berkelana menjelajah semesta. Chicken stays, eagle flies.

Lakukan kreativitas, siapa pun adanya diri kita, dan di mana pun kita berada. Lakukan sesuatu yang berbeda, meskipun butuh waktu untuk melihat dan menikmati hasilnya. Terpenting, berproseslah. Jangan ingin cepat besar. Mulailah dari langkah-langkah kecil yang terus-menerus diperbaiki. Memperbaiki sedikit demi sedikit pada tiap tahapan akan lebih kelihatan nikmatnya. We can do anything, but we can’t do everything.

Trust your idea. Setiap ide pasti bermanfaat dan menunjukkan keunikannya. Hanya saja, mungkin ide tersebut tidak cocok digunakan untuk saat ini. Hanya yakini saja. Kuat-kuat. Di masa depan, bisa jadi ide kita justru bisa menghasilkan sesuatu yang mengguncang dan membuat epigon kewalahan, karena setiap penulis mempunyai jiwa dan kepribadian sendiri untuk menyawai karyanya menjadi sajian yang unik.

Ralph Waldo Emerson, esais yang merangkap penyair, dan filosof dari Paman Sam mengujarnya, “Bakat saja tak bisa membuat seseorang menjadi penulis. Harus ada jiwa di belakang sebuah buku; sebuah kepribadian, bawaaan maupun sifat, yang didedikasikan pada prinsip-prinsip yang dituliskan di sana, dan yang eksis untuk melihat dan menyatakan segalanya sesuai dengan prinsip itu, dan bukan sebaliknya.”

Berkarya berarti penaka bangunan. Setelah selesai, selalu akan ada para pembangun baru yang datang. Entah ia memberikan lagi sentuhan kesempurnaan, memugarnya menjadi lebih elok, ataupun yang datang membabat habis. Semua menempati bagiannya secara khusus. Ada yang memilih jalan panjang penuh kesungguhan; ada pula yang mengambil jalan pendek penuh keculasan.

Itulah kemudian, kita mendapati setiap karya dan pekaryanya memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada setiap penikmat sebuah karya.

0 responses on "Setiap Penulis Memiliki Jiwa Khasnya Sendiri"

Leave a Message

top

Copyright©Institut Penulis Indonesia

Juru Tempa Penulis Indonesia

X