Pendidikan Vokasional Penerbitan yang Merana

InstitutPenulis.id | Pernah mendengar tentang Program Studi Editing di Fakultas Sastra, Unpad? Di sanalah dulu saya sempat mengenyam pendidikan ilmu editing dan ilmu penerbitan. Semestinya prodi itu ada di Fakultas Ilmu Komunikasi, tetapi karena pencetusnya adalah Pak Jus Badudu (Guru Besar Fakultas Sastra) jadilah prodi tersebut “dititipkan” di Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra.

Prodi Editing Unpad merupakan pendidikan vokasional demi menyiapkan tenaga-tenaga terampil siap kerja di dalam industri penerbitan, baik itu media massa maupun buku. Pada masa itu yaitu akhir tahun 1980-an, profesi editor, apalagi editor buku masihlah sangat asing di telinga masyarakat Indonesia meskipun profesi ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Meskipun berada di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), mata kuliah di Prodi Editing tidak melulu terkait bahasa Indonesia atau sastra. Saya dapat sebutkan beberapa mata kuliah khas, yaitu

  1. Pengantar Penerbitan;
  2. Bibliografi;
  3. Penjurus;
  4. Pengantar Grafika;
  5. Perwajahan (Desain);
  6. Penerbitan Destop (Desktop Publishing);
  7. Praktik Penyuntingan; dan
  8. Proses Komunikasi.

Mata kuliah kebahasaan dan sastra juga diberikan secara praktis, seperti tata bentuk, tata kalimat, komposisi, dan kemahiran berbahasa. Tentu wajar adanya karena prodi ini memang mempersiapkan lulusannya untuk dapat menjadi editor nas (copyeditor) atau paling tidak korektor (proof reader).

Prodi Editing Unpad kali pertama dibuka pada tahun 1988. Namun, prodi ini sekarang telah tinggal nama. Saya kurang ingat pastinya kapan prodi ini ditutup.

Pada tahun 1990, berdiri pula Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ)  yang didukung oleh Pusat Grafika Nasional (Pusgrafin) sehingga sempat berkampus di Pusgrafin, Srengseng Sawah. Jurusan ini kemudian memisahkan diri dan berpindah kampus ke UI, bergabung dengan jurusan lainnya.

Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan PNJ kemudian dikembangkan menjadi dua prodi dan satu konsentrasi, yaitu Prodi Teknik Grafika, Prodi Penerbitan/Jurnalistik, dan Konsentrasi Desain Grafis. Prodi penerbitan awalnya ditujukan untuk penerbitan buku seperti halnya Prodi Editing Unpad, tetapi kemudian diubah menjadi jurnalistik.

Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan PNJ bertujuan menyiapkan tenaga ahli menengah profesional dan berkompeten yang mampu mengisi posisi penyelia atau pelaksana dalam bidang grafika, penerbitan, dan pencetakan naskah untuk media elektronik dan cetak. Tidak heran lulusan dari sini banyak bekerja di sektor percetakan, penerbitan media massa (sebagai wartawan), dan juga desainer grafis.

Pusgrafin setelah tidak lagi menyokong PNJ, kemudian mendirikan politeknik sendiri yaitu Politeknik Negeri Media Kreatif yang juga membuka Jurusan/Prodi Penerbitan. Prodi Penerbitan disebutkan bertujuan menghasilkan Ahli Madya Penulis atau Pengarang, Ahli Madya Penyunting atau Editor, dan menjadi Wirausaha Bidang Penerbitan (Umum dan Pers).

Dengan mempertimbangkan kebutuhan industri terhadap tenaga-tenaga ahli di bidang publikasi/penerbitan, tampaknya mengandalkan lulusan dari dua perguruan tinggi ini sangatlah kurang. Saya katakan kita benar-benar merana di tengah “meriah”-nya kebutuhan penerbitan/publikasi saat ini.

Saya mengalami sendiri bagaimana industri non-penerbit juga sangat membutuhkan tenaga-tenaga penulis dan editor. Hampir setiap organisasi memiliki lini atau divisi publikasi, bahkan di sektor perbankan, hukum, ataupun industri hiburan. Banyak penerbitan/publikasi organisasi-organisasi tersebut tidak tertangani dengan baik.

Saya ambil contoh seorang teman diterima menjadi pegawai KPK karena memiliki latar belakang pengalaman di bidang editorial, sedangkan pendidikan tingginya adalah sains. KPK memerlukan yang bersangkutan di Divisi Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) yang banyak menghasilkan publikasi dan penerbitan materi-materi antikorupsi.

Alhasil, posisi-posisi tenaga profesional penerbitan banyak diisi para penulis dan editor autodidak. Mereka kemudian mendapatkan ilmu itu dari pelatihan dan kursus seperti yang saya lakukan di Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (Alinea) Ikapi serta Institut Penulis Indonesia ini.

 

Tertinggal

Pendidikan vokasional penerbitan kita masih tertinggal dengan Malaysia yang sudah menyelenggarakan pendidikan setingkat S3 untuk ilmu penerbitan. Level diploma tiga memang sudah tidak memadai lagi jika dihubungkan dengan perkembangan media-media kini yang mengalami kemajuan pesat akibat perkembangan teknologi informasi dan internet.

Beruntung saya sebagai alumnus Editing Unpad pernah mengajar di prodi/jurusan penerbitan di tiga PTN tersebut sehingga mengenali juga kesiapan penyelenggara pendidikan untuk menghasilkan tenaga profesional penerbitan. Saya kira kurikulum dan silabus perlu pembaruan atau malah direvisi besar-besaran demi menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masa mendatang.

Era penerbitan digital sudah tidak terbendung lagi, namun pengetahuan-pengetahuan dasar tentang ilmu penerbitan tetap diperlukan karena terlihat makin “kacau”. Indonesia malah salah satu negara yang tidak memiliki buku gaya penerbitan (house style book) yang dapat menjadi acuan. Banyak organisasi/lembaga membuat panduan penerbitan yang sepertinya asal ada. Bahkan, BSN (Badan Standardisasi Nasional) sempat memublikasikan SNI penerbitan buku.

Buku yang boleh diunduh gratis itu saya kritik karena justru pada beberapa bagian tidak menerapkan konvensi standar internasional dalam penerbitan buku. Hal paling sering keliru dilakukan adalah tidak mampu membedakan antara ‘kata pengantar’ (foreword) dan ‘prakata’ (preface).

Banyak penulis atau editor kini yang juga tidak memahami pengetahuan-pengetahuan elementer tentang tata tulis dan penerbitan. Di sinilah kapasitas dan kompetensi dosen juga berperan. Dosen jurusan/prodi penerbitan haruslah benar-benar menguasai ilmu penerbitan dan mau mengikuti perkembangan yang terjadi pada aktivitas penerbitan di dunia. Selain itu, mereka juga harus benar-benar memahami vokasional penerbitan–artinya mereka juga memiliki karya dalam dunia penulisan, penyuntingan, atau penerbitan.

 

Writerpreneurship

Sebagai contoh dalam upaya mendorong para lulusan menjadi pengusaha bidang penulisan (writerpreneur) maka konsep ragam profesi penerbitan seperti ini harus dijelaskan dan dikuasai, yaitu seorang mahasiswa dapat berprofesi atau mendirikan usaha seperti berikut:

  1. ghost writer;
  2. co-writer;
  3. blogger;
  4. copy writer;
  5. copy editor;
  6. publicist;
  7. literary agent;
  8. content provider;
  9. book packager;
  10. publishing service;
  11. self-publisher; dan
  12. publisher.

Semua itu adalah peluang writerpreneurship yang sangat mungkin berkembang atau dikembangkan di Indonesia. Tentulah dengan peluang sebanyak itu, pendidikan vokasional penerbitan tidak seharusnya merana atau akhirnya ditutup karena sepi peminat.

30 March 2018

0 responses on "Pendidikan Vokasional Penerbitan yang Merana"

    Yuk diskusi ...

    Tentang Kami

    InstitutPenulis.id adalah pusat kursus penulisan-penerbitan daring terlengkap sekaligus terbaik di Indonesia.

    Anggota Aktif

    There are no users currently online
    © 2018 oleh PT Inovasi Penulis Indonesia.
    X
    %d bloggers like this: