Tentang Pengindonesiaan Istilah Asing

InstitutPenulis.id | Betul bahwa kita harus menjunjung tinggi bahasa Indonesia, terutama dalam konteks formal ataupun konteks berkomunikasi secara tertulis. Namun, ada kasus dalam penerapan istilah bahasa Indonesia yang merupakan hasil pengindonesiaan. Apakah pembaca sasaran dari tulisan akan memahaminya? Apakah sebuah istilah hasil pengindonesiaan dari kata asing dapat berterima?

Di sinilah sebagai editor kadang saya pun mengambil keputusan bijak untuk tetap menggunakan padanan kata bahasa Indonesia, membiarkannya tetap asing, ataupun menggunakan kedua-duanya.

Betul bahwa para penulis (termasuk wartawan) dan editor menjadi garda terdepan dalam memasyarakatkan atau memopulerkan istilah yang sudah diindonesiakan tersebut. Alhasil, saya membuat catatan berikut ini.

1. Istilah yang sudah mulai populer digunakan sebaiknya terus digunakan, seperti istilah unduh pengganti download dan unggah pengganti upload dalam bidang komputer.

2. Istilah yang belum populer digunakan dan dianggap sebagai padanan yang sangat tepat diperkenalkan sebagai kata yang mendahului istilah yang diserap. Istilah yang diserap diletakkan di dalam kurung atau diapit tanda petik tunggal.

Contoh:

petahana ‘incumbent

zum ‘zoom

gawai ‘gadget

Serbuan istilah asing ini memang semakin tidak terbendung, terutama istilah-istilah yang lahir dari media sosial atau dunia internet. Kita pun mulai akrab dengan istilah mention, gadget, time line, atau email yang sudah lebih dulu populer. Lalu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau penggiat bahasa pun membuat padanan menjadi gamit, gawai, lini masa, dan pos-el.

Tidak hanya di bidang komputer atau media sosial, istilah asing ini pun “menyerbu” masuk dalam aktivitas kita di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Perhatikan kata-kata berikut ini.

electability menjadi elektabilitas; keterpilihan (politik)

outsourcing  menjadi alih luar; sumberluar (ekonomi)

hastag menjadi tagar, tanda pagar (internet)

poke menjadi colek (internet)

brunch menjadi sarap siang (kuliner)

sea food menjadi boga bahari (kuliner)

Di sinilah terdapat masalah ketika kita hendak saklek menggunakan istilah bahasa Indonesia secara taat asas maka kita pun berhadapan dengan soal komunikasi yang berterima. Bayangkan jika saya menulis, “Mereka sedang menyantap boga bahari.”

Pembaca akan mengernyitkan dahi terlebih dahulu untuk memahami apa itu boga bahari. Begitupun jika kepada pelayan rumah makan saya menyatakan ingin memesan penyelera (sebelumnya malah disebut “umpan tekak” sebagai padanan appetizer) atau memesan mi dadak (sebagai pengganti “instant mie”). Memang seberapa pun usaha Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau golongan masyarakat tertentu memopulerkan suatu istilah sangat bergantung pada keberterimaannya di tengah masyarakat.

Masih ingat dengan istilah-istilah yang gagal berterima? Anda tentu ingat dengan mangkus dan sangkil yang dahulu digunakan untuk mengganti efektif dan efisien. Namun,lambat laun istilah yang dipopulerkan juga lewat acara bahasa di TVRI itu ditinggalkan karena kurang berterima.

20 March 2018

0 responses on "Tentang Pengindonesiaan Istilah Asing"

    Yuk diskusi ...

    Tentang Kami

    InstitutPenulis.id adalah pusat kursus penulisan-penerbitan daring terlengkap sekaligus terbaik di Indonesia.

    Anggota Aktif

    There are no users currently online
    © 2018 oleh PT Inovasi Penulis Indonesia.
    X
    %d bloggers like this: