Rapor Merah Bambang Trim

InstitutPenulis.id | Dalam promosi sebuah kegiatan pelatihan ada yang menyebut jenama saya sebagai maestro editor. Di kalangan junior-junior saya, justru panggilan akrab saya adalah ‘suhu’. Entah suhu apa tak jelas benar atau mungkin karena mereka kalau dekat-dekat saya terasa suhunya menyejukkan. He-he-he.

Ini soal editor mungkin karena latar belakang pendidikan saya adalah ilmu editing, ditambah pekerjaan saya tidak pernah lepas dari edit-mengedit. Tambahan lagi, saya juga menulis beberapa buku tentang editing sehingga menjadi legitimasi bahwa saya benar-benar ahli editing.

Namun, tahukah Anda bahwa saya tidak pernah bercita-cita menjadi editor sejak lahir? Ya, iyalah …. Serius bahwa sewaktu SMA juga tidak, apalagi pas lulus SMA. Menyandang ijazah dari jurusan fisika di SMA, di benak saya yang ada hanyalah menjadi tukang insinyur, bukan tukang editor.

Takdir berkata lain bahwa akhirnya saya masuk ke Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Prodi D-3 Editing, di Universitas Padjadjaran. Di situlah saya mulai berkutat dengan persoalan bahasa Indonesia serta tulis-menulis. Selama enam semester, kuliahnya memelototi karya tulis.

Kemudian, saya teringat tentang bagaimana suatu ketika rapor saya di SMA dihiasi tinta merah berlambang 5. Nilai “mengerikan” itu seumur hidup baru saya terima dan celakanya untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Entah mengapa guru bahasa saya begitu tega memberikan nilai itu. Seingat saya ia memang kerap memarahi saya yang tidak becus berbahasa Indonesia.

Satu hal yang saya ingat memang ketika semester I di SMAN 5 Medan, nilai saya melorot jauh dibandingkan kala duduk di bangku SMP. Saya ibarat mengalami “guncangan kejiwaan” pada masa itu. Halah!

Namun, kisah itu telah menjadi masa lalu saya yang kelam sebagai tukang editor sehingga saya simpan rapat-rapat. Rapor merah itu menghambarkan julukan sebagai maestro editor. Walaupun begitu, kisah masa lalu yang tidak patut itu ternyata dapat berbalik seratus delapan puluh satu derajat dengan renjana yang muncul tiba-tiba. Renjana untuk mencintai bahasa Indonesia sepenuh jiwa. Cie ….

Alhasil, kemudian saya menjadi tukang editor dan sangat peduli dengan persoalan-persoalan berbahasa Indonesia. Jika ada yang khilaf berbahasa Indonesia, langsung saya beri terapi. Namun, saya pun hingga kini tidak luput dari kekeliruan berbahasa. Kadang ingat, kadang juga lupa.

Demikianlah bahwa untuk berbahasa yang telah kita pelajari sejak kanak-kanak mutlak terus dipelajari dan diserap informasinya. Bahasa itu berkembang pesat, terutama kosakata. Tidak mengikuti perkembangannya alamat kita bakal tertinggal dalam berbahasa yang baik dan benar.[]

14 September 2018

0 responses on "Rapor Merah Bambang Trim"

    Yuk diskusi ...

    Tentang Kami

    InstitutPenulis.id adalah pusat kursus penulisan-penerbitan daring terlengkap sekaligus terbaik di Indonesia.

    Anggota Aktif

    There are no users currently online
    © 2018 oleh PT Inovasi Penulis Indonesia.
    X
    %d bloggers like this: