Bagaimana Saya Menembus HL Kompasiana

InstitutPenulis.id | Saya bergabung dengan Kompasiana–blog jurnalisme warga yang dirintis oleh Kompas–sejak 21 Desember 2012. Lebih dari lima tahun. Secara statistik, saya baru menghasil 231 tulisan hingga tanggal 21 Juni 2018  dan jika dihitung selama kurang lebih enam tahun, saya menulis rata-rata 38 tulisan setiap tahunnya.

Secara status, saya sudah terverifikasi biru (diberikan pada penulis yang sudah bereputasi menurut Kompasiana), namun secara pangkat saya memang masih level Taruna karena poin yang baru saya kumpulkan 5.830,245 poin. Untuk naik pangkat, saya harus membukukan lebih dari 10.000 poin dan seterusnya.

Memang ada tahun-tahun awal saya vakum. Namun, sejak 2016, saya mulai lagi menulis dan mengeposkannya di Kompasiana.

Hal yang unik, menurut hitung-hitungan saya saat ini, 9 dari 10 tulisan yang saya kirimkan pasti diganjar menjadi artikel utama atau dulu disebut HL (headline). Ini adalah kategori bergengsi didasarkan pada kurasi tim editor Kompasiana.

Biasanya sebelum menjadi HL, tulisan masuk dulu ke kategori Pilihan. Tentu ada pertimbangan Redaksi Kompasiana mengapa saya terus-menerus masuk HL. Dari sisi saya sendiri memang ada upaya untuk membuat tulisan saya selalu memenuhi kriteria MAP (menarik-amanat-penting).

Rahasia Selalu Diganjar HL

Saya pernah berbagi pada tahun 2016 kepada teman-teman bloger bagaimana rahasia saya menembus HL di Kompasiana. Acara waktu itu disponsori oleh Cipika Indosat Ooredoo.

Sebenarnya rahasianya sederhana saja. Kriteria ini juga pernah diungkap Kompasiana.

Pertama, saya konsisten menulis pada bidang yang menjadi minat dan kepakaran saya, yaitu tulis-menulis dan penerbitan, termasuk di dalamnya bahasa. Karena itu, saya dapat terlihat lebih menonjol untuk menuliskan sesuatu yang saya sukai dan saya kuasai dengan baik.

Artinya, saya tidak menulis topik secara gado-gado, apalagi untuk sekadar ikut-ikutan mengulas topik yang menjadi tren. Seperti saat ini tengah berlangsung Piala Dunia 2018 di Rusia, saya menulis topik sepak bola tetap dari sudut pandang tulis-menulis. Saya tidak ingin menjadi ‘orang lain’ dalam tulisan saya.

Kedua, saya mempelajari betul pola menulis di media sosial yaitu ringkas, runtut, padu, dan tuntas. Umumnya saya menuliskan jenis esai yang mengandung opini. Opini ini saya perkuat dengan data dan fakta, termasuk menyisipkan cerita tentang pengalaman pribadi atau orang lain. Alhasil, tulisan tersebut saya upayakan mengandung kekuatan enak dibaca.

Panjang rata-rata tulisan saya adalah 700 kata atau paling panjang 1.500 kata. Dulu saya sering menulis artikel di medsos sangat panjang, tetapi saya langsung insaf dan berusaha menghentikan tulisan pada takaran yang cukup untuk dibaca melalui gawai.

Ketiga, saya juga memperhatikan topik yang aktual dan juga menulis hal-hal lain di luar penulisan dengan pertimbangan masih saya kuasai dan berhubungan dengan pengalaman saya. Sebagai contoh yang paling terbaru saya menulis tentang kepedulian kita terhadap bencana dengan mengusung peristiwa aktual tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba.

Tulisan saya saat masih kategori pilihan.

Awalnya masuk ke kategori pilihan, lalu dalam tempo beberapa jam sudah naik menjadi artikel utama. Biasanya setelah masuk HL maka munculnya penilaian dan komentar dari pembaca. Penilaian dan komentar juga akan diganjar poin untuk menaikkan pangkat kita.

Tulisan saya setelah menjadi artikel utama (HL).

Kunci HL adalah bagaimana kita dapat menyajikan sudut pandang secara aktual dan faktual, sekaligus mengukur tingkat kebermanfaatan tulisan untuk pembaca secara spesifik atau secara luas. Itu mengapa saya sebagai editor selalu menggunakan kriteria penilaian Menarik-Amanat-Penting.

Menarik ukurannya adalah enak dibaca dan memang topiknya mengundang rasa ingin tahu. Amanat berhubungan dengan pesan dan kebermanfaatan (benefit) yang ingin kita berikan kepada pembaca. Bentuk amanat tidak melulu kalimat-kalimat motivasi, nasihat, atau persuasif, tetapi juga informasi-informasi berguna.

Kemudian, yang terakhir adalah penting. Artinya, tulisan yang kita sajikan memang penting dalam konteks masa kini dan masa mendatang. Penting untuk diketahui, dipikirkan, dan tentu saja dilakukan.

Nah, itu tip dari saya bagaimanaa dapat terus-menerus masuk kategori HL di Kompasiana. Berani mencoba?[]

21 June 2018

0 responses on "Bagaimana Saya Menembus HL Kompasiana"

Yuk diskusi ...

Tentang Kami

InstitutPenulis.id adalah pusat kursus penulisan-penerbitan daring terlengkap sekaligus terbaik di Indonesia.

Paling Dicari

Anggota Aktif

There are no users currently online
top
© 2018 oleh PT Inovasi Penulis Indonesia.
X
%d bloggers like this: